DUA TERDUGA PELAKU PENGANIAYA TANPA MOTIF DI YOGYA DITANGKAP - Jarrak POS
Connect with us

Kriminal

DUA TERDUGA PELAKU PENGANIAYA TANPA MOTIF DI YOGYA DITANGKAP

Published

on

YOGYAKARTA- JARRAKPOSNUSRA.COM-Polisi mengamankan dua terduga pelaku penyerangan tanpa motif (klitih), inisial RK (15) dan RD (14), yang beraksi di Jalan Ireda Yogyakarta pada Minggu (1/12) dini hari. Kendati demikian polisi belum menetapkan status tersangka atas keduanya.

Polisi punya alasan mengapa “belum ditahan (tersangka) dan baru diperiksa dulu, nanti dimintai keterangan dulu, statusnya masih diduga pelaku,” jelas Kapolsek Gondomanan Kompol Purwanto saat jumpa pers di Mapolresta Yogyakarta, Jalan Reksobayan No 1, Minggu (1/12/2019).

Purwanto menuturkan baik RK maupun RD masih duduk di bangku SMP. Sementara dalam kasus kekerasan di jalanan tanpa motif atau klitih tersebut, RK diketahui berperan sebagai pembacok korban sedangkan RD yang mengendarai sepeda motor.

“Korbannya pelajar SMA kelas tiga. Pelakunya pelajar SMP kelas delapan dan sembilan. Korban dirawat di RS Sardjito, tadi siang rencananya dioperasi,” tuturnya.

Polisi menyebut tangan kiri korban dibacok memakai pedang.

“(Korban) dilukai dengan pedang mengenai pergelangan tangan kiri dengan luka terbuka kurang lebih 10 sentimeter,” ujar Purwanto.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh polisi, antara kedua terduga pelaku dengan korban tidak saling kenal. Motif pembacokan terduga pelaku hingga kini juga belum diketahui. Kini polisi masih memeriksa kedua pelaku dan para saksi lainnya.

“Ini baru dikembangkan, jadi motifnya untuk pengembangan selanjutnya. Tapi yang jelas dia (RK dan RD) sementara ini yang diduga (sebagai terduga pelaku),” jelasnya.

Sementara dalam kasus ini, tutur Purwanto, polisi telah menyiapkan sejumlah pasal seperti pasal 170, pasal 351 dan pasal 354 KUHP. Adapun kedua terduga pelaku terancam hukuman maksimal tujuh tahun penjara.

“Jadi gini, nanti kan dilakukan pemeriksaan (terhadap kedua terduga pelaku), kalau di bawah umur pemeriksaannya nanti didampingi oleh Bapas. Setelah itu diperiksa, baru bisa ditahan,” tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, terjadi aksi klitih atau penganiayaan tanpa motif Jalan Ireda Yogyakarta pada Minggu (1/12/2019) dini hari. Korban, Mohammad (18), tanpa sebab yang jelas dibacok oleh terduga pelaku menggunakan sebilah pedang.

Kini kedua terduga pelaku sedang diperiksa Unit Reskrim Polsek Gondomanan bersama Reskrim Polresta Yogyakarta. Sementara korban yang mengalami luka bacok di pergelangan tangan kiri sekitar 10 sentimeter masih dirawat di RSUP Sardjito.

Sumber: detikcom

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita

Proyek RSUD Lombok Utara TA. 2019 Mangkrak Sampai Sekarang, Polda NTB Harus Mengusut Tuntas

Published

on

By

Lombok Utara — jarrakposnusra.com — Pekerjaan Penambahan Ruang IGD RSUD Lombok Utara yang seharusnya sudah rampung sejak bulan Desember 2019, sampai dengan saat ini tidak menunjukkan hasil sesuai dengan kontrak kerja.

Proyek yang mempunyai nilai kontrak Rp 5.156.431.712,17 ini, seharusnya sudah bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Kabupaten Lombok Utara, namun kenyataannya justru terhenti dan menghambat proses pelayanan kesehatan RSUD Lombok Utara kepada masyarakat.

Hasil pantauan tim jarrakposnusra.com yang meninjaunya lokasi pada Sabtu (13/06/2020), menemukan fakta bahwa PT. Batara Guru Group, selaku pemenang lelang dan kontraktor tidak menyelesaikan pekerjaan sesuai kontrak.

Foto : proyek RSUD Lombok Utara per Desember 2019

Apakah RSUD Lombok Utara yang merupakan satuan kerja dari proyek pembangunan ini selaku Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran dan Pejabat Pembuat Komitmen/PPK sudah menjalankan tugas dan fungsinya sesuai dengan Perpres No. 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah ?

Karena sangat jelas jika PT. Batara Guru Group melanggar kontrak pekerjaan, harus diberi sanksi sesuai dengan yang diatur dalam pasal 78 ayat (3) Perpres No. 16 Tahun 2018, dan harus dimasukan ke dalam Daftar Hitam Nasional sebagaimana telah diatur dalam pasal 78 ayat (5) Perpres No. 16 Tahun 2020.

Tentunya aparat penegak hukum, dalam hal ini Polda Nusa Tenggara Barat, melalui Kapolda Nusa Tenggara Barat, Irjen. (Pol) M. Iqbal, sudah seharusnya memerintahkan jajarannya untuk mengusut tuntas hingga ke akar masalah sebenarnya mengapa sampai terjadi gagalnya proyek pembangunan ruang IGD RSUD Lombok Utara yang menggunakan dana dari APBD Kabupaten Lombok Utara Tahun Anggaran 2019.

Kapolda NTB, Irjen (Pol) M. Iqbal (doc. bongkar.com)

Ini menjadi tantangan besar bagi Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat, untuk bisa mengupas masalah ini menjadi terang benderang dan menghilangkan rasa penasaran yang sangat besar dari masyarakat terhadap macetnya proyek penambahan gedung IGD RSUD Lombok Utara.

Wartawan : Putu Sudiarsa(jarrakposmataram.com)
Editor : Agus Jaya

Continue Reading

Berita

NARAPIDANA LAPAS KELAS IIA MANADO MENGAMUK

Published

on

By

Ratusan Narapidana mengamuk menghancurkan segala fasilitas yang terlihat.

Amukan ratusan warga binaan ini terjadi pada Sabtu (11/4/2020) pukul 16.00 WITA.

Ratusan Narapidana (Napi) mengamuk menghantam semua fasilitas yang terlihat di dalam gedung.

Kaca-kaca dalam gedung dilempari hingga hancur. Sejumlah makanan dan minuman dibawa keluar gedung sebelum gedung dibakar.

Membakar bangunan dalam gedung, dan membakar sebuah kantin yang tersedia di dalam Lapas.

Hingga saat ini masih belum diketahui persis penyebab kerusuhan ratusan warga binaan tersebut.

Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Manado ini mengalami kerugian materiil dan immateriil yang belum bisa ditentukan.

Dan Lapas Kelas IIA Manado juga belum bisa mengkonfirmasi jumlah warga binaan yang diduga melarikan diri dari lapas.

Mengkhawatirkan akan terjadi hal yang sama di beberapa Lapas di indonesia. (Red)

Continue Reading

Berita

Pukul Ketua PMKRI, Brigpol Polce Adu Cs Dilaporkan Ke Propam Polda NTT

Published

on

By

KUPANG–JARRAKPOSNUSRA.COM. Minggu, 19 Januari 2020, sekitar jam 01.00 WITA dini hari, Adrianus Oswin Goleng melaporkan Brigpol Polce Adu, Cs dari Satlantas Polres Kupang di Propam POLDA NTT dengan Nomor Laporan: STPL/3/I/Huk.12.10./2020/Yanduan.

Brigpol Polce Adu, Cs diduga melakukan pemukulan terhadap Adrianus Oswin Goleng, Ketua PMKRI Cabang Kupang di dalam kantor Satlantas Polres Kupang Kota.

Peristiwa tersebut berawal dari kendaraan roda dua bermerk Satria FU yang dikendarai oleh pelapor “ditilang”oleh anggota Satlantas Polres Kupang Kota di depan Gereja Katedral Keuskupan Agung Kupang sekitar jam 11.00 WITA karena tidak mengenakan helm.

Berikut kronologi perstiwa:

“Selesai misa, saya dan senior berinisial BP menuju ke kampung Solor, di depan Gereja Katedral, kami ditilang oleh Satlantas Polresta Kupang Kota. Sebagai warga negara yang baik dan taat hukum, saat ditahan saya tidak mengelak atau “melawan,” ungkap Oswin.

Pada saat yang bersamaan, Oswin Goleng sempat meminta blanko tilang. Namun, kata oknum Polantas bahwa blanko tilang tidak ada. Oswin, cs yang “ditilang”, diarahakan untuk mengambil blanko di Kantor Satlantas Polresta. Motor Satria Fu itu akhirnya dibawa anggota Polantas ke kantor tersebut.

Setelah itu, pelapor, cs bergegas ke Kantor Satlantas Polresta Kupang Kota untuk mengambil blanko tilang.

Di Kantor Satlantas, Oswin menanyakan mekanisme atau SOP penilangan yang berlaku, bahwasannya, lokasi tilang tanpa papan informasi bahkan blanko tilang tidak diberikan malah diarahkan ke kantor Satlantas.

Selain itu, lanjutnya, lokasi tilang sama sekali mengabaikan kepentingan umum. Karena, menurutnya, di sekitar lokasi rawan kecelakaan. Lokasi itu tepat di pertigaan jalan menurun dan berhadapan langsung dengan Gereja Katedral yang mana orang kristiani butuh ketenangan menjalankan aktivitas rohani.

“Sebagai orang awam, niat saya mempertanyakan untuk memperoleh alasan dan informasi secara utuh dari pihak Satlantas agar tidak menimbulkan kecurigaan dan penilaian negatif. Namun hal ini diabaikan, malah saya dipukul, diintimidasi dan diusir,” terang mantan Ketua PERMADA Kupang itu.

Mendengar perkataan itu, menurut keterangan Oswin dan beberapa saksi yang juga hendak mengambil blanko, anggota Polantas Polce Adu menanggapi secar arogan dengan bahasa yang tidak etis. “Kau datang hanya bikin ribut saja goblok,” sebut Oswin meniru ucapan Polce.

Tidak menerima perkataan itu, korban pun membalas ujarannya. “Pak, mohon lebih etis dalam berbahasa, sebetulnya kamu yang goblok,” tutur Oswin Goleng.

Tidak menerima dengan perkataan Adrianus Oswin Goleng, Polce Cs (kurang lebih 7-8 orang) bereaksi dengan melakukan kekerasan secara fisik dan verbal: memukul, intimidasi dan mengusir korban keluar dari kantor secara tidak manusiawi.

Tidak menerima perlakuan ini, korban dan saksi langsung melapor kejadian tersebut di PROPAM POLDA NTT. Setelah membuat laporan, korban langsung diarahkan ke RS. Bhayangkara untuk divisum. Adapun, terdapat beberapa luka memar di sekitar leher, dada, dan perut korban.

Secara terpisah, saat dimintai keterangan di Margajuang63 (Sekretariat) PMKRI Cabang Kupang, Oswin Goleng mendesak Polda NTT melalui Propam segera mengusut dan menindak tegas para pelaku sesuai aturan berlaku.

“Ini tindakan memalukan. Oknum polisi sama sekali tidak mencitrakan spirit lembaga: melindungi, mengayomi, dan melayani. Lebih dari itu, adalah memberikan edukasi bukan malah direpresif,” ucap pria asal Bajawa itu.

Sementara itu, saksi saat peristiwa berlangsung berinisial JO saat diminta keterangan, membenarkan hal tersebut. “ Ya, saya melihat korban dipukul dan diusir oleh beberapa oknum Satlantas,” terangnya.

Saksi lain berinisial BP juga membenarkan kejadian itu. “Korban diperlakukan tidak adil. Oknum Satlantas yang melakukan tindakan kekerasan baik fisik maupun verbal terhadap korban, kita minta agar Polda NTT segera menindak tegas Polce, Cs guna menjaga marwah lembaga itu. Apabila dibiarkan, ini menjadi preseden buruk terhadap pelaksanaan tugas kepolisian, ” tutup BP.

Adapun alat bukti yang dikantongi adalah keterangan saksi dan hasil visum et repertum. Rencananya, PMKRI Kupang dan elemen lainnya akan menggelar aksi demonstrasi untuk mengecam tindakan represif yang dilakukan oleh oknum Satlantas terhadap Ketua PMKRI Cabang Kupang.

Korban dalam hal ini Ketua PMKRI Kupang di dampingi Emanuel Boli saat membuat laporan di Propam POLDA NTT dan visum di RS. Bhayangkara. (Red)

Continue Reading

Trending