by

BAMSOET DAN NEO-GOLKAR: KRITIK ATAS NARASI SPEKULATIF

-Politik-10 views

BAMSOET DAN NEO-GOLKAR : Kritik atas Narasi Spekulatif

Muliansyah A. Ways: Narasi bisa saja dalam bentuk fakta maupun bisa saja dalam bentuk fiksi, namun bukan berarti spekulasi-spekulasi gagasan untuk menghakimi gagasan lain

Menyimak tulisan Bambang Soesatyo pada pekan kemarin di sejumlah media terkait Pancasilais, Golkar Baru dan Generasi Milenial (lihat; opini detikindonesia.co/3/08/19), tentu menjadi dialektika tesis dan anti tesis dalam kajian keilmuan sosiolog Hegel, baik secara lisan maupun tulisan. Dialektika ini menjadi narasi yang baik bila di salurkan dalam ruang tulisan ilmiah sedangkan narasi tidak baik bila hanya menarasikan gagasan dalam bentuk spekulasi-spekulasi sesaat.

Membangun narasi adalah bagian dari konstruksi ide baik secara lisan maupun tulisan, dimana lisan akan menjadi narasi multi tafsir spekulasi dan tulisan akan menjadi narasi ilmiah serta bermakna setiap nalar keilmiahanya. Walaupun narasi bisa saja dalam bentuk fakta maupun bisa saja dalam bentuk fiksi, namun bukan berarti spekulasi-spekulasi gagasan untuk menghakimi gagasan lain yang sudah menjadi bagian dari sentral kehidupan gagasan keilmuan.

Sambut saja istilah Neo-Golkar merupakan istilah penulis dalam menggunakan narasi perspektif ideologis, sosiologis dan generasi baru pada satu objek kajian politik yang bernalar narasi ide dan ideologi yang menggambarkan narasi kebangsaan nasionalis dalam tubuh partai politik yakni Golkar sebagai partai, serta kajian Sosiologis memberikan perjalanan historical pada setiap kepemimpinan partai Golkar dari masa ke masa, serta kajian generasi baru atau lebih trend disebut generasi millennial adalah merujuk pada generasi baru yang lahir di era milenium.

Bambang Soesatyo atau Bamsoet melahirkan gagasan brilian yang mencoba menghadirkan Golkar Baru “Sebagai kekuatan politik, Golkar tidak boleh minimalis. Sebaliknya, Golkar bisa saja berinisiatif untuk kembali berbuat. Bahu membahu dengan semua kekuatan bangsa dan generasi milenial khususnya, Golkar harus ambil bagian dalam upaya mengelimininasi ideologi apa pun yang bertentangan dengan Pancasila. Sebab, Pancasila berarti keutuhan NKRI untuk sekarang dan selama-lamanya.

Narasi secara keilmuan dengan perspektifnya, bukan dengan spekulatifnya, namun para pengkritik hanya mencoba melakukan narasi spekulasi secara lisan yang tak bersandar pada kajian ilmiah. Hal tersebut menunjukkan bahwa Bamsoet sangat tepat membangun karakter politik yang mendidik dan berjumpa pada etape kehidupan baru, generasi baru, golkar baru dan manusia baru.

Disinilah kita menemukan Neo-Golkar dan generasi milenial dari narasi Bamsoet, “Dengan begitu, ada peluang bagi semua semua kekuatan nasionalis seperti partai Golkar untuk melakukan pendekatan, serta mengeksplorasi kekuatan generasi milenial sebagai simpatisan, karena alasan kesamaan aspirasi. Tantangannya adalah kesungguhan untuk membangun komunikasi yang intens dengan mereka. Selain komunikasi yang intens, Golkar juga harus mau beradaptasi dengan pola hidup generasi milenial. Pola lama dalam upaya merangkul konstituen atau simpatisan partai harus diubah, disesuaikan dengan perilaku dan budaya milenial.

Walaupun narasi Bamsoet masih terlihat bernostalgia Golkar masa lalu, membangun kekuatan golkar lewat konsolidasi dan kolaborasi kaum tua dan muda, gagasan besar Bamsoet kelihatanya masih terjebak pada politik kepentingan dan kekuasaan, sehingga gagasan besar Golkar baru masi menjadi ide besar yang belum di salurkan dalam narasi ide kekinian.

Tentu menjadi kritis para pembaca pada setiap kolom narasi yang di publish berapa hari kemarin, penulis melihat dua perspektif dari kajian naratifmenya Bamsoet; pertama adalah bangunan kritis pembaca belum nampak dalam anti tesis, sehingga manipulative pemikiran menjadi spekulatif yang tidak melahirkan sintesa.

Kedua, kritik gagasan besar yang belum tersalur dalam isi narasi pemikiran Bamsoet, dimana gagasan besar belum terungkap secara konsepsi dan materialisasi, artinya gagasan besar Bamsoet sebagai Golkar baru atau kajian penulis adalah Neo-Golkar akan terus menjadi perhatian bagi para akademisi, aktivis, pemerhati, peneliti dan pengamat-pegiat politik untuk membedah satu per satu dari item narasi-narasi besar dalam membangun partai politik dengan cerminanya untuk membangun bangsa dan Negara.

Penulis sangat berharap pemikiran dan gagasan besar Bamsoet menjadi visi besar membangun Golkar dan Indonesia, Bamsoet hadir sebagai titik balik membangun imperium besar Bangsa Indonesia dari Sabang Sampai Mareuke.

Oleh: Muliansyah A. Ways
Penulis Adalah: Dosen FISIP UMS, Direktur Eksekutif Pasifik Resources & Penulis Buku Hegemoni Politik Partai Golkar

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed